Minggu, 05 Mei 2013

KONSEP DASAR PAUD DAN PERKEMBANGAN ANAK



KONSEP DASAR PAUD

Per
Tanggal
Topik
Tugas
1
04/05/13
Pendidikan Anak Usia Dini;
Pendidik, Anak Usia Dini, Pendidikan, Organisasi Pendidik.
Mahasiswa membawa data dan informasi tentang topik, diskusi bersama.
2
18/05/13
Arah baru dalam PAUD;
Peran pemerintah dan Undang-Undang terkait.
Mahasiswa membawa undang-undang yang terkait dengan penyelenggaraan PAUD di Indonesia (analisis SWOT).
3
01/06/13
Tokoh ternama dalam PAUD;
Tokoh, Teori yang dimunculkan:
Piaget, Vygotsky, Ki Hajar Dewantara
Mahasiswa membawa profil dan teori PAUD yang dipopulerkan para tokoh dan presentasi.
4
22/06/13
Penerapan Program PAUD;
High Scope, Montessori, Sekolah Alam
Mahasiswa melakukan observasi ke sekolah yang ditunjuk, membuat laporan
5
06/07/13
Materi pilihan mahasiswa
Mahasiswa mempersiapkan materi
6
20/07/13
UAS
Mahasiswa menjawab pertanyaan secara tertulis.

Evaluasi:
Harian = Keaktifan dalam diskusi
UTS = Hasil tugas yang dilakukan perkelompok
UAS = Tertulis

PERKEMBANGAN ANAK
Per
Tanggal
Topik
Tugas
1
04/05/13
Perkembangan Anak;
Faktor yang mempengaruhi perkembangan anak.
Mahasiswa memberikan beberapa contoh permasalahan anak secara umum.
2
18/05/13
Perkembangan Fisik
Mahasiswa membuat makalah tentang perkembangan anak yang dibagi menjadi kategori (0-2 tahun, 2-4 tahun, 4-6 tahun, 6-8 tahun)
3
01/06/13
Perkembangan Sosial Emosional
4
22/06/13
Perkembangan Kognitif
5
06/07/13
Perkembangan Moral Agama
6
20/07/13
Final dan UAS
Mahasiswa merangkum hasil pertemuan dan menyerahkan hasil UAS.
Evaluasi:
Harian = Keaktifan dalam diskusi
UTS = Hasil tugas yang dilakukan perkelompok
UAS = Mahasiswa membuat hasil observasi tentang perkembangan anak

Contoh Lembar observasi:
Lembar Observasi
Nama Anak               :
Usia                            :
Aspek yang diamati:
Deskripsi:



Refleksi:






Minggu, 21 April 2013

KARTINI MASA KINI


Dr. Hj. Widia Winata, M. Pd lahir di Jambi, besar di lingkungan pasar dengan berbagai macam retorika yang ada di dalamnya. Bergaul dengan anak-anak jalanan, pecandu narkoba, pengamen dan anak-anak korban kekerasan seksual. Meski demikian, ia mampu tidak terperosok oleh lingkungan itu. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang dan saat kelas tiga SD pindah sekolah ke Riau dan tinggal di Pasar KM 4 Perawang.
Ibunya hanya mengenyam pendidikan sampai kelas empat SD dan ayahnya hanya kelas satu SD. Pendidikan orang tua yang minim itulah, ia berpikir bahwa "aku harus mampu menjadi pencerah". Ditinjau dari paradigma orang tuanya melihat dari sisi materi, cukuplah menjadi pedagang yang sukses, tidak perlulah sekolah yang tinggi. Itu hanya akan membutuhkan banyak biaya dan mahal. Lingkungan orang-orang pasar yang tidak peduli dengan pendidikan itulah yang mendasari pikirannya untuk mampu merubah dan menjadi pencerah, baik dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, budaya dan politik.
Selepas SD, ia memutuskan bersekolah di Diniyyah Puteri Padang Panjang. Menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan sangat berbeda dengan lingkungan pasar yang minim aturan di dalamnya. Lingkungan pesantren itulah yang mendidiknya untuk bersikap disiplin sembari terus berusaha memperjuangkan hak-haknya untuk mampu mendapatkan pendidikan yang lebih. Dinikahkan oleh orang tuanya dengan pedagang pasar yang sukses pada usia 18 tahun, selepas menamatkan pendidikannya di Diniyyah Puteri Padang Panjang. Ibunya khawatir, jika tidak menikah secepatnya, akan didahului oleh sang adik yang badannya lebih besar dan seksi, sedangkan ia berpostur imut-imut. Stigma dan tradisi pernikahan yang ada di daerahnya menegaskan bahwa jika seorang gadis mendekati usia 20-an dan sudah dilamar sebanyak tiga kali lalu tidak diindahkan, maka jodohnya akan jauh.
Meneruskan pendidikan S1-nya di UIN Jakarta, jurusan Pendidikan Agama Islam dengan status sebagai ibu rumah tangga (pada saat itu), tidak membuatnya mudah menyerah dan gentar untuk terus berjuang menjadi sang pencerah. Walau sebetulnya ibunda sangat menentang ia melanjutkan kuliah. Ibunda khawatir, ia tidak mampu karena perjalanan dari Cileungsi (tempat tinggalnya) ke kampus UIN yang berada di Ciputat cukup jauh jaraknya serta badannya yang kecil sangat membuat ibunda khawatir.
Namun dengan penuh keyakinan, ia meyakinkan ibunda bahwa ia mampu seraya berkata "jika ibu tidak mengizinkan kuliah, lebih baik ibu bunuh saja aku". Pembunuhan karakter lebih tepatnya.  Hati ibunda tersentuh dan menangis tersedu-sedu, lalu mengizinkan melanjutkan studi.
Dukungan suami tercinta dan ibunda membuat ia lulus dengan nilai sangat memuaskan (cumlaude). Ibunda pula orang pertama yang menangis bahagia dan terharu dengan perjuangan dan kegigihan anaknya. Melanjutkan S2 dan S3 di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan meraih gelar Doktor PAUD pada usianya yang ke-32 tahun.
Sudah barang pasti jika ada halangan dan rintangan yang ia hadapi dalam perjalanan karirnya selama ini. Salah satunya dari lingkungan masyarakat dan tradisi yang sangat kurang mendukung, bersinergi dan kurang peduli dengan dunia perempuan. Sulitnya memberi pengertian bahwa perempuan bisa; mampu membuat perubahan, perempuan mampu menjadi seperti apa yang ia mau.
Kendala lain adalah dalam hal memanage waktu. Selain sebagai ibu rumah tangga, mahasiswa, aktivis, pedagang dan dosen, membuat ia banyak belajar bagaimana memanage waktu agar semua terkafer dengan baik. Sembari tak lupa (senantiasa) berdo'a dan mendekatkan diri kepada Allah, selalu menyelesaikan masalah yang mendera dan mau belajar dari manapun dan dengan siapapun, itulah kunci kesuksesannya.
Tentu saja dibalik kesuksesan saat ini sebagai Doktor PAUD pertama di FIP UMJ dan Sekretaris Program Studi PAUD FIP UMJ, tak lepas dari karunia Allah yang selalu memudahkan jalan yang ia tapaki dan dukungan ibunda yang pada awalnya sempat menentang karirnya. Ayahanda, suami dan anak tercinta yang selalu mendukung dengan penuh kasih.
Pesan untuk perempuan-perempuan Indonesia dan generasi muda; kenali dirimu, baik fisik dan potensi-potensi yang ada di dirimu, kembangkan potensi tersebut dan syukuri apa yang telah dicapai, terima dengan lapang dada.
Sangat inspiratif sekali kan kawan!
Redaksi Majalah Dinding HIMMA PAUD FIP UMJ, Versi Hari Kartini 2013

Kamis, 28 Maret 2013

NASI GORENG KUJANG; Menu Anak

Lama tidak menulis di blog membuat saya terinspirasi oleh nasi goreng ini sebagai pemula percakapan dengan pembaca blog. Libur hari ini diisi dengan kegiatan memasak dan menanam bunga. Pilihan pertama adalah memasak nasi goreng sesuai dengan permintaan anak di pagi hari.
Ayuk kita mulai! 
Bahan:
Bawang merah (5 siung), bawang putih (3 siung), jahe (1 potong kecil), cabe merah (5 buah), daun seledri dan daun bawang (2 batang), nasi putih (2 piring), kerupuk (10 keping), telur (3 butir), minyak goreng (5 sendok makan), ayam yang sudah digoreng (1 potong), tulang rawan ayam (1 potong), ketimun (1 buah), kacang panjang (2 tali), kecap manis (3 sendok makan), garam (1 sendok makan). 
Persiapan:
Iris halus bawang merah, daun bawang, seledri, ayam dan kacang panjang. Letakkan di wadah dengan posisi terpisah-pisah. Goreng telur satu persatu dengan model telur mata sapi, sisakan satu untuk dicampurkan ke dalam nasi. Goreng kerupuk, pisahkan. Bawang putih, cabe dan jahe digiling halus.
Memasak Inti:
Tuangkan minyak goreng ke dalam kuali/wajan. Tunggu panas, masukkan irisan bawang merah, aduk merata. Setelah wangi masukkan gilingan bawang putih, cabe dan jahe, tambahkan kecap. Aduk merata, masukkan telur dan ayam secara bersamaan, aduk. Masukkan nasi dan terus diaduk. Setelah nasi berubah warna, masukkan daun bawang dan seledri yang sudah diiris halus, tambahkan irisan kacang panjang.
Desain:
Ambil piring dan tata nasi goreng di atasnya dengan paduan seperti berikut; Telur mata sapi diletakkan di pojok piring agar tidak menutupi indahnya nasi. Ketimun yang dipotong berjejer diletakkan di pinggir sebelah telur. Kerupuk di sejajarkan dengan ketimun tetapi diberi jarak agar tidak layu tersentuh air ketimun. Tulang rawan ditancapkan di tengah-tengah nasi secara tegak layaknya Tugu Kujang. Desain ini penting untuk menarik minat anak agar mau makan. Biasanya anak-anak suka bosan dengan menu yang monoton apalagi jika tidak didesain sesuai dengan karakter anak-anak yang suka hiasan. Di sini saya juga membuat sedikit “tipuan” bagi anak-anak yang sulit sekali makan sayur, saya meracik kacang panjang kecil-kecil agar tidak terlalu terlihat wujudnya. Ini menyiasati agar anak-anak tetap bisa makan sayuran dengan lahap tanpa bisa memisah-misahkan sayuran tersebut dari nasi. Ketimun juga diupayakan dimakan anak dengan memoles tatanan nasi, sambil berkata “oh ya, ini adalah angkot-angkot yang sedang macet di Tugu Kujang”. Menarik bukan?
Tips Tambahan:
Masak nasi dengan air sedikit agar nasi tidak lembek (nasi badarai). Goreng telur dengan minyak yang panas agar pinggiran telur bisa dibentuk seperti bunga yang sedang mekar. Goreng kerupuk dengan minyak bekas penggorengan ayam agar rasa ayam menyatu dengan kerupuknya. Hidangkan nasi goreng sambil bercerita kepada anak tentang keunikan wilayah Kujang, Cibinong, Bogor. Tugu Kujang terletak di tengah kota dengan keramaian penduduk yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tugu ini direpresentasikan dengan tulang rawan ayam yang ditata di tengah-tengah nasi goreng. Kerupuk di letakkan di pinggiran piring sebagai simbol bahwa di sekitar tugu Kujang terdapat berbagai ragam etnik yang turut memajukan pembangunan Kujang. Uniknya, ketimun disimbolkan sebagai susunan angkot yang berjubel berseliwiran di bundaran Tugu Kujang setiap harinya. Hm…anak-anak, suka bukan? Bila makan sambil diceritakan sejarah daerah kita?
 



Sabtu, 22 September 2012

BAYANGAN KAYANGAN (6)
Kupu-Kupu Nan Indah

Kasih, aku merindukanmu. Jika suatu hari nanti kita bertemu, akan kukatakan "for the rest of my life", selalu bersamamu. Jika aku dipanggil Ilahi maka panggillah aku dalam pelukmu.


Air mataku menetes mengiringi bacaan diary yang kemarin sudah kutulis rapi. Satu katapun kupastikan tidak ada yang keliru penulisannya, nyaris sempurna, sesempurnanya hatiku untukmu, wahai kekasihku. Tak cukup waktu 24 jam berkisar, aku dipertemukan dengan kekasihku itu, Jumat jam lima sore kemarin.

Bila aku berkehendak maka akan kusuruh matahari berhenti di peredarannya agar tidak datang magrib menjelang, agar tidak berputar jarum jam tangan, agar tidak berhenti seliwiran kendaraan yang sibuk di sebelah kami. Tapi waktu tetaplah waktu, bergulir sesuka yang mempunya.

"Allahu Akbar... Allahu Akbar..." Magribpun tiba dan ini tanda aku harus beranjak pergi. Berpisah adalah saat yang paling tidak aku inginkan tapi apa boleh dikata, hidup harus terus berlanjut meski tanpa dia.

"Ah, aku melamun lagi, ini indikasi nih." Aku ingat pesan ustazah Yanti. Cinta itu anugrah dari Allah, tetapi bisa menjadi petaka jika kita tidak bisa memaknainya dengan tepat. Iya juga ya, kalau aku melamun saja, bisa-bisa tidak berangkat sekolah. Aku tidak boleh terlambat, bagaimana jadinya kalau aku terlambat? Sesuka hati aku menghukum adek-adek yang terlambat, lalu jika aku terlambat? mau dibawa kemana mukaku nanti.

"Teeeet.." Itu bunyi serunai tanda masuk. Sesegera mungkin satpam akan menutup pagar utama dan tidak ada satupun yang bisa membukanya kembali. Aku berada persis di belakang pagar masuk, Alhamdulillah..untung aku sudah masuk. Satpam ini super galak. Meski dirayu-rayu dengan jurus jitu, tidak akan mau dia membukakan pintu pagar. Nampaknya para satpam memilih berwajah sanger dan jutek dari pada ramah, supaya anak-anak takut pada mereka. Dan mereka berhasil membuat semua temanku takut terkecuali aku. Buktinya, setiap Jumat sore, aku berhasil lolos keluar menemui kekasihku, tanpa seorangpun tahu.

Pelajaran pertama adalah IPS dengan Ibu Ros. Asyik sekali teman-temanku belajar karena memang masih suasana pagi dan semua masih segar. Petunjuk penulisan tugas diperhatikan dengan seksama oleh teman-temanku. Pelajaran kedua adalah pelajaran memasak di ruang tata boga. Kami akan membuat risoles yang berisi daging cincang. Catatan menu sudah diberikan oleh Ibu Nita di ruang kelas. Selanjutnya kami menuju ruang memasak atau ruang tata boga di sudut lahan sekolah. Bangunan ini baru sekali, sangat rapi dan bersih. Meskipun terlihat rapi dengan warna cat putih, bagaimana dengan susunan kuburan di samping ruangan ini?

Aku tidak memungkiri bahwa rada takut bila berada di sini sendirian. Tiga ruangan tersusun sejajar dari arah timur ke barat. Ruangan pertama adalah ruangan menjahit dan bordir. Seluruh karya anak-anak asrama akan ditampilkan di sini untuk dipamerkan ketika acara-acara penting. Misalnya acara ulang tahun sekolah, banyak para undangan yang datang melihat hasil karya kami. Mereka boleh membeli jika tertarik untuk memiliki. Harga juga kami yang menentukan seberapa layak dijual dengan harga sepadan, tentu mempertimbangkan jasa pembuatan. Intinya di sini kami diajarkan bagaimana caranya produk bisa laku dijual sesuai dengan minat pasar yang sedang berkembang. Alhasil jiwa interpreneurship kami sangat berkembang meski kami tidak pernah berjualan di kaki lima pasar tradisional atau di pasar swalayan sekalipun. Suatu kebanggaan sekali, karya-karya kami menjarah wilayah seluruh Indonesia bahkan luar negeri seperti Malaysia, Singapura dan Brunai Darussalam. Di kemudian hari baru aku sadari, ternyata hasil karya bordiran, sulaman dan model baju kurung serta lilit kami banyak diciplak oleh perempuan Malaysia. Sampai saat ini aku tidak tahu bagaimana hak cipta karya-karya ini, apakah diklaim lagi oleh Malaysia sebagai miliknya atau tidak?

Ruangan tengah adalah ruangan praktek memasak. Ini juga ramai dikunjungi jika ada acara-acara penting. Beberapa teman akan demo memasak di depan para pengunjung. Hasil masakan dicicipi para pendatang, jika berkenan boleh membeli dalam potongan kecil atau besar. Yang kurasakan masakan di sini enak-enak. Wajar karena guru tata boga kami memang sarjana makanan alias ahli memasak lulusan UNAND Padang. Jenis menu yang dimasakpun beragam, mulai dari khas Padang seperti rendang, pangek, samba lado mudo sampai ala Eropa seperti kue tart ala pengantin Barat, lengkap dengan boneka selayarnya. Hm...enak...

Ruangan terakhir adalah ruangan praktek IPA. Jika dua ruangan sebelah tadi ramai dikunjungi pendatang, ruangan ini nyaris sepi. Berfungsi sebagai tempat praktek IPA seperti memotong kodok yang sudah mati untuk dilihat bagaimana organ dalamnya atau mumi kupu-kupu yang sengaja diberi asam kimiawi agar awet dan dipajang secantik mungkin di ruang kaca. Bantuk kupu-kupu ini menjadi sangat indah dengan dihiasi frame kaca berwarna-warni. Seindah apapun bentuk rumah kaca kupu-kupu itu, aku satu-satunya anak asrama yang protes kepada Ibu Intan.

"Bu, Apa tidak ada cara lain untuk mempelajari daur hidup kupu-kupu. Kan kita mau melihat kepompong berproses jadi kupu-kupu, kenapa kita justru menangkap mereka lalu dibunuh hidup-hidup. Tega nian kita ini, Bu?" Pikirku teramat kasihan kupu-kupu yang cantik ini dimumikan hanya gara-gara kita ingin mengetahui proses daur hidupnya. Apa tidak ada cara yang lain?
"Cerewet banget sih lu Delima, udah untung dapet nilai 90, kok malah protes. Eh tau gak, gue itu baru menyaksikan kupu-kupu seabreg gini, seumur-umur juga baru kali ini tauk, masak disuruh lepasin sih, ada-ada aja.." Laras menggerutu. Aku memaklumi anak Jakarta yang satu ini memang tidak pernah melihat binatang. Kota Jakarta menurutnya, hanya dipenuhi bangunan tinggi menjulang ke langit. Itu jika kita melihat ke atas, coba melihat ke bawah, banyak rumah kumuh di pinggir kali yang berseberangan dengan tumpukan sampah. Di kompleknya, nyaris tidak ada tanaman atau binatang yang bisa hidup dengan bebas. Tak heran akhirnya rumah kaca kupu-kupu itu dibawa tidur ke kamar asrama oleh Laras.

Akhirnya dengan sangat lelah, pelajaran IPApun selesai juga. Semua kelelahan karena sulitnya menangkap kupu-kupu di belakang ruang-ruang kelas. Tanpa memperhatikan teriknya matahari dan besarnya bebatuan yang menghadang, teman-temanku semangat mengumpulkan kupu-kupu. Dihitung-hitung terkumpullah 40 ekor kupu-kupu yang beragam jenis warna dan ukurannya. Habitat yang sangat indah tapi kami musnahkan dengan memberi air asam kimiawi. Persis seperti mumi yang akan disimpan di dalam Piramida Mesir. Semua puas dengan hasil kerjanya, lagi-lagi terkecuali aku. Menatap kepala kupu-kupu kuning besar yang sudah aku miringkan ke kanan, rasanya aku bersalah besar. Sampai detik inipun aku selalu teringat betapa sakitnya kupu-kupu itu. Mungkin dia adalah ibu dari kupu-kupu kecil yang juga berwarna sama, tapi akhirnya akupun mencoba tidak peduli. Bayangan kupu-kupu terus menyelimuti pikiranku sampai ke asrama Kayangan.

Tidak seperti Laras yang membawa rumah kaca kupu-kupu ke asrama, aku tidak mau membawa rumah kaca itu. Biarlah dia dipajang di dalam ruang praktek IPA. Aku tidak tertarik lagi melihat rumah kaca itu, sama sekali tidak.

Malampun larut sudah. Aku mencoba berbaring ke kanan dan kemudian ke kiri. Gelisah masih terasa, aku teringat sulitnya menangkap kupu-kupu tadi siang. Sampai ke batu nisan segala tetap kukejar. Di dekat batu nisan itu banyak tumbuh bunga kamboja yang indah jadi kupu-kupu senang bertengger di kelopak bunga itu.
"Tidak..jangan ambil punyaku...tidak.." Laras terbangun dari tidur tapi kenapa dia berteriak-teriak histeris?
"Laras...Laras...kamu kenapa?" Aku mencoba menguncang tubuhnya. Dia tetap berteriak dan menepis tanganku.
"Tidak...itu kupu-kupu milikku jangan diambil." Laras seolah meraih sesuatu dari depannya. Padahal tidak ada apapun di depan Laras. Aku mencoba merangkul Laras, disaksikan teman-teman yang lain. Memang semua jadi terbangun karena gaduhnya suasana. Laras kesurupan. Beberapa teman memanggil ustazah Riri yang berada di asrama Mariah. Cukup jauh menempuh jarak antara Kayangan dan Mariah di malam buta seperti ini. Selama perjalanan temanku itu, Laras terus berteriak sambil melotot.

Taukah teman? aku menyaksikan kupu-kupu indah berterbangan dari balik kaca ruang bawah Kayangan. Kupu-kupu itu berkelompok-kelompok, ada warna merah, kuning, hitam dan putih. Keindahan sayapnya terpancar bersamaan terpaan sinar lampu besar di sisi Jemuran.

DELIMA
01