Kamis, 08 Maret 2012

BERMAIN DALAM PERSPEKTIF KLASIK (Pertemuan 1)


Secara garis besar, ada dua pengertian bermain yaitu teori bermain klasik dan teori bermain kontemporer. Masa permainan klasik ini berlangsung sampai pada akhir abad ke-19. Kemudian dilanjutkan dengan teori bermain kontemporer sejak awal abad 20 hingga saat ini.
Teori bermain klasik merujuk pada dua pandangan yaitu pandangan Barat dan non Barat. Menurut pandangan Barat bermain dilakukan dengan cara permainan zaman Yunani dan Romawi Kuno sedangkan teori bermain klasik menurut pandangan non Barat mengacu pada model bermain menurut kultur di wilayah masing-masing negara.[1]
Teori bermain klasik ini terbagi menjadi beberapa pengertian di antaranya adalah:
1)      Teori energi berlebih (energi surplus theory).
Manusia bermain apabila mereka memiliki energi berlebih. Konsep ini berasal dari pemahaman terhadap binatang yang juga memiliki insting memanfaatkan energinya untuk bergerak. Kemampuan bergerak ini juga dimiliki manusia. Anak-anak yang sehat akan bermain dengan senang hati tanpa merasa lelah. Kesenangan bermain kadangkala melupakan pekerjaan lain seperti lupa makan, mandi atau kegiatan yang lainnya. Sebaliknya jika anak-anak sakit, kemampuan bermain dengan energi berlebih ini menjadi berbeda kualitas dan kuantitasnya.
2)      Teori rekreasi (the recreation theory)
Bermain sebagai aktivitas yang terkait erat dengan rekreasi. Rekreasi merupakan kemampuan natural yang dimiliki manusia untuk menyenangkan dirinya. Kegiatan yang menyenangkan seperti memancing, jalan-jalan dan berenang termasuk kategori pengertian ini. Aktivitas itu dilakukan sebagai bagian dari rekreasi. Dalam bermain sebagai rekreasi, fungsi kognitif tidak begitu berperan. (Takhvar 1988) Karena pada dasarnya anak-anak melakukan kegiatan bermain dengan cara meniru apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya, tanpa tekanan. Jadi kegiatan yang dilakukan dalam bermain rekreasi dilakukan dengan santai, tidak kaku dan menyenangkan.
3)      Teori melaksanakan insting (the instinct practice theory)
Anak bermain untuk persiapan kehidupan mendatang setelah dewasa. Peran yang dilakukan oleh orang dewasa saat ini ditiru oleh anak. Dalam permainan tersebut anak-anak melakukan aktivitas yang biasa dilakukan orang dewasa sehari-hari tetapi dalam konteks pemahaman mereka dan dalam bentuk bermain. Teori ini diasosiasikan dengan Karl Groos (1898, 1901) dan dinamakan juga pre – exercise  theory.
4)      Teori rekapitulasi (the recapitulation theory)
Teori ini berdasarkan teori evolusi manusia. Hall menggambarkan bermain sebagai kebiasaan manusia menggunakan motorik untuk bergerak. Seperti gerakan-gerakan yang sering dilakukan  binatang di hutan. Anak-anak yang senang sekali bergelantungan seperti monyet di pohon, memanjat atau berjingkat-jingkat termasuk model bermain ini. Permainan yang membutuhkan ekspresi instingnya sebagai makhluk hidup.
5)      Teori katarsis (the catharsis theory)
Yang dimaksud dengan katarsis adalah perasaan tertekan disebabkan oleh sandiwara tragedi. Katarsis dapat juga berarti ungkapan tentang sesuatu yang tidak menyenangkan kemudian diatasi kembali. Anak bermain dengan mengekspresikan emosi seperti marah, benci atau kesal. Menurut Claperde’s nilai bermain ini menjadi hilang jika sudah merusak seperti membanting pintu, jendela atau kursi. Ekspresi emosi seperti ini ditentang keras oleh pendidik anak usia dini modern. Dalam beberapa cara bermain katarsis, hampir sama dengan bermain energy berlebih hanya bedanya pada permainan ini ada luapan emosi yang dialami anak. [2]

Dalam pengertian teori bermain klasik non Barat, bermain adalah ekspresi konteks kultural masyarakat yang ada di sekitar anak. Teori ini mengacu pada perspektif kultural masing-masing negara. Permainan tari Lion berasal dari China yang dimainkan anak-anak ketika perayaan tahun baru atau Imlek. Permainan ini dipengaruhi oleh paham Confucianisme. Permainan tradisional India dipengaruhi oleh nilai-nilai kehidupan agama Hindu. Begitu pula di Jepang, bermain banyak dipengaruhi oleh filosofi Wada. Termasuk Indonesia memiliki berbagai macam jenis permainan yang bernuansa kultural masyarakat Indonesia.


[1] Sue Dockett & Marilyn Fleer, Play and Pedagogy in Early Childhood, Bending the Rules (Sydney: Harcourt, 1999), p. 23
[2] Ibid, p. 32

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar